Minggu, 09 Januari 2011

TARI TOR TOR ( Sumatera Utara )

Dahulu tarian Tortor merupakan tarian kesurupan dengan diiringi gondang, musik yang dianggap sumber kekuatan adikodrati yang memungkinkan alam suci menembus upacara masa kini. Roh-roh dipanggil masuk ke patung batu yang merupakan simbol leluhur masyarakat Batak di Sumatera Utara, lalu patung tersebut bergerak kaku seperti menari. Di dalam tradisi, Tortor cukup beragam. Sebut saja Tortor Pangurason yaitu tari pembersihan yang biasa dipertunjukkan saat berlangsungnya pesta besar. Tujuannya sekadar membersihkan tempat dan lokasi yang akan dipakai agar jauh dari petaka. Ada juga Tortor Sipitu Cawan atau Tarian Tujuh Cawan. Biasa digelar saat mengukuhkan raja. Menurut cerita, tarian ini berasal dari kisah tujuh putri kahyangan yang datang mandi di telaga puncak Gunung Pusuk Buhit dan datang bersama pisau tujuh sarung. Selanjutnya, Tortor Tunggal Panalian yang dipadukan dengan kemunculan tongkat tunggal panaluan. Tongkat tersebut masih dianggap sakral sebab dipercaya memiliki kesaktian setara Debata Natolu, yakni gabungan banua atas, banua tengah, dan banua bawah. Tortor ini sudah menjadi budaya ritual yang digelar apabila suatu desa dilanda musibah. Dengan tongkat panaluan para dukun menari untuk memohon petunjuk bagaimana mengatasi masalah tersebut. Lain halnya Tortor yang ditarikan pada perayaan Horja. Tortor semacam ini diadakan tanda kepada umum tentang pertukaran hadiah antarkeluarga.

TARI SAMAN ( Nangroe Aceh Darussalam )

Tari Saman adalah salah satu tarian daerah Aceh yang paling terkenal saat ini. Tarian ini berasal dari dataran tinggi Gayo. Pada masa lalu, Tari Saman biasanya ditampilkan untuk merayakan peristiwa - peristiwa penting dalam adat dan masyarakat Aceh. Selain itu biasanya tarian ini juga ditampilkan untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad. Pada kenyataannya nama “Saman” diperoleh dari salah satu ulama besar Aceh, Syech Saman.

Tari Saman biasanya ditampilkan menggunakan iringan alat musik, berupa gendang dan menggunakan suara dari para penari dan tepuk tangan mereka yang biasanya dikombinasikan dengan memukul dada dan pangkal paha mereka sebagai sinkronisasi dan menghempaskan badan ke berbagai arah.

Tarian ini dipandu oleh seorang pemimpin yang lazimnya disebut Syech. Karena keseragaman formasi dan ketepatan waktu adalah suatu keharusan dalam menampilkan tarian ini, maka para penari dituntut untuk memiliki konsentrasi yang tinggi dan latihan yang serius agar dapat tampil dengan sempurna.

Tarian ini dilakukan secara berkelompok, sambil bernyanyi dengan posisi duduk berlutut dan berbanjar/bersaf tanpa menggunakan alat musik pengiring.

Karena kedinamisan geraknya, tarian ini banyak dibawak/ditarikan oleh kaum pria, tetapi perkembangan sekarang tarian ini sudah banyak ditarikan oleh penari wanita maupun campuran antara penari pria dan penari wanita. Tarian ini ditarikan kurang lebih 10 orang, dengan rincian 8 penari dan 2 orang sebagai pemberi aba-aba sambil bernyanyi.
Bagi para penikmat seni tari, Saman menjadi salah satu primadona dalam pertunjukan. Dalam setiap penampilannya, selain menyedot perhatian yang besar juga menyedot para penikmat seni tari. Tarian Saman termasuk salah satu tarian yang cukup unik, karena hanya menampilkan gerak tepuk tangan dan gerakan-gerakan lainnya, seperti gerak badan, kepala dan posisi badan. Keunikan lainnya terlihat dari posisi duduk para penari dan goyangan badan yang dihentakkan ke kiri atau ke kanan, ketika syair-syair dilagukan.

Tari ini biasanya dimainkan oleh belasan atau puluhan laki-laki, tetapi jumlahnya harus ganjil. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, tarian ini dimainkan pula oleh kaum perempuan atau campuran antara laki-laki dan perempuan. Dan tentunya dengan modifikasi gerak lainnya. Saya kadang bertanya bagaimana orang sebanyak itu bisa dengan serentak memainkan tarian yang memiliki kecepatan tinggi? Selain latihan tentunya, pasti ada formasi tertentu dalam meletakkan tiap-tiap penari itu sehingga kerapatan dan keseimbangan tarian terlihat harmonis dan dinamis.

Hampir semua tarian Aceh dilakukan beramai-ramai. Ini memerlukan kerjasama dan saling percaya antara syeikh (pemimpin dalam tarian) dengan para penarinya. Namun apa saja unsur yang membuat tarian ini menjadi begitu indah dalam gerak, irama dan kekompakan tidak banyak kita mengetahuinya.

Sekarang mari kita mulai mengupas unsur pendukung dalam tari saman ini. Mungkin saat kita mengetahui segala aspek yang terdapat dalam tarian ini, kita dapat lebih memahami. Dan mendapatkan tidak hanya keindahan namun juga makna filosofi dari posisi, gerak, syair yang terlantun saat pertunjukan Saman di gelar.